SKI KELA 9 A " PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA ABBASIYAH"
Pahami dan tulis kembali kedalam buku catatan dikumpul awal agustus tanggal 02 September 2020
PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA ABBASIYAH
A.
Latar Belakan
Masalah
Sejarah tak
ubahnya kacamata masa lalu yang menjadi pijakan dan langkah setiap insan di
masa mendatang. Seperti yang kita ketahui setelah tumbangnya kepemimpinan masa
khulafaurrasyidin maka berganti pula sistem pemerintahan Islam pada masa itu
menjadi masa daulah, dan dalam makalah ini akan disajikan sedikit tentang masa
daulah Abbasiyah. Dalam peradaban ummat Islam, Bani Abbasiyah merupakan salah
satu bukti sejarah peradaban ummat Islam yang terjadi. Bani Abbasiyah merupakan
masa pemerintahan ummat Islam yang memperoleh masa kejayaan yang gemilang. Pada
masa ini banyak kesuksesan yang diperoleh Bani Abbasiyah, baik itu dibidang
Ekonomi, Politik, dan Ilmu pengetahuan. Hal inilah yang perlu untuk kita
ketahui sebagai acuan semangat bagi generasi ummat Islam bahwa peradaban ummat
Islam itu pernah memperoleh masa keemasan yang melampaui kesuksesan
negara-negara Eropa. Dengan kita mengetahui bahwa dahulu peradaban ummat Islam
itu diakui oleh seluruh dunia, maka akan memotifasi sekaligus menjadi ilmu
pengetahuan kita mengenai sejarah peradaban ummat Islam sehingga kita akan
mencoba untuk mengulangi masa keemasan itu kembali nantinya oleh generasi ummat
Islam saat ini.
B.
Kelahiran
Daulah Abbasiyah
Masa Daulah
Abbasiyah adalah masa keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah ‘’The
Golden Age’’. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik
dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang
berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan
buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang
melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi
baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bani Abbas mewarisi imperium besar
Bani Umayah. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak,
karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar.
Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam
berbagai bidang kehidupan bernegara; terjadi kekeliruan-kekeliruan dan
kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara
lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam,
termasuk salah satunya pengucilan yang dilakukan Bani Umaiyah terhadap kaum
mawali yang menyebabkan ketidak puasan dalam diri mereka dan akhirnya terjadi
banyak kerusuhan .
Bani Abbas
telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin
Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Khalifah itu dikenal memberikan toleransi
kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah. Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas
yang ditindas oleh Daulah Umayah bergerak mencari jalan bebas, dimana mereka
mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun
Daulah Abbasiyah.
Di bawah
pimpinan Imam mereka Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka bergerak dalam dua fase,
yaitu fase sangat rahasia dan fase terang-terangan dan pertempuran. Selama Imam
Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. Propaganda dikirim ke
seluruh pelosok negara, dan mendapat pengikut yang banyak, terutama dari
golongan-golongan yang merasa ditindas, bahkan juga dari golongan-golongan yang
pada mulanya mendukung Daulah Umayah. Setelah Imam Muhammad meninggal dan
diganti oleh anaknya Ibrahim, pada masanya inilah bergabung seorang pemuda
berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang
bernama Abu Muslim Al-Khurasani. Semenjak masuknya Abu Muslim ke dalam gerakan
rahasia Abbasiyah ini, maka dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan,
kemudian cara pertempuran, dan akhirnya dengan dalih ingin mengembalikan
keturunan Ali ke atas singgasana kekhalifahan, Abu Abbas pimpinan gerakan
tersebut berhasil menarik dukungan kaum Syiah dalam mengobarkan perlawanan
terhadap kekhalifahan Umayah. Abu Abbas kemudian memulai makar dengan melakukan
pembunuhan sampai tuntas semua keluarga Khalifah, yang waktu itu dipegang oleh
Khalifah Marwan II bin Muhammad. Begitu dahsyatnya pembunuhan itu sampai Abu
Abbas menyebut dirinya sang pengalir darah atau As-Saffah. Maka bertepatan pada
bulan Zulhijjah 132 H (750 M) dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II di
Fusthath, Mesir dan maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah. Dalam peristiwa
tersebut salah seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayah, yaitu Abdurrahman
yang baru berumur 20 tahun, berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. Tokoh
inilah yang kemudian berhasil menyusun kembali kekuatan Bani Umayah di seberang
lautan, yaitu di keamiran Cordova. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan
kekhalifahan Umayah dengan nama kekhalifahan Andalusia.
Pada awalnya
kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemerintahan,
dengan Abu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Kemudian
Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindahkan pusat
pemerintahan ke Baghdad. Di kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah
imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. Imperium
ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah. Dalam beberapa hal Daulah Abbasiyah
memiliki kesamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah. Seperti yang terjadi pada
masa Daulah Umayah, misalnya, para bangsawan Daulah Abbasiyah cenderung hidup
mewah dan bergelimang harta. Mereka gemar memelihara budak belian serta istri
peliharaan (hareem). Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang
mengembangkan nilai-nilai agama Islam . Namun tidak dapat disangkal sebagian
khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama.
C.
Sistem Politik,
Pemerintahan dan Sosial
1.
Sistem Politik dan Pemerintahan
Khalifah
pertama Bani Abbasiyah, Abdul Abbas yang sekaligus dianggap sebagai pendiri
Bani Abbas, menyebut dirinya dengan julukan Al-Saffah yang berarti Sang
Penumpah Darah. Sedangkan Khalifah Abbasiyah kedua mengambil gelar Al-Mansur
dan meletakkan dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah. Di bawah Abbasiyah,
kekhalifahan berkembang sebagai system politik. Dinasti ini muncul dengan
bantuan orang-orang Persia yang merasa bosan terhadap Bani Umayyah di dalam
masalah sosial dan politik diskriminastif. Khalifah-khalifah Abbasiyah yang
memakai gelar ”Imam”, pemimpin masyarakat muslim bertujuan untuk menekankan
arti keagamaan kekhalifahan. Abbasiyah mencontoh tradisi Umayyah di dalam
mengumumkan lebih dari satu putra mahkota raja. Al-Mansur dianggap sebagai
pendiri kedua dari Dinasti Abbasiyah. Di masa pemerintahannya Baghdad dibagun
menjadi ibu kota Dinasti Abbasiyah dan merupakan pusat perdagangan serta
kebudayaan. Hingga Baghdad dianggap sebagai kota terpenting di dunia pada saat
itu yang kaya akan ilmu pengetahuan dan kesenian. Hingga beberapa dekade
kemudian dinasti Abbasiyah mencapai masa kejayaan.
Ada beberapa
sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Abbasiyah, yaitu
a. Para
Khalifah tetap dari keturunan Arab murni, sedangkan pejabat lainnya diambil
dari kaum mawalli.
b. Kota Bagdad
dijadikan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik,
ekonomi, sosial dan ataupun kebudayaan serta terbuka untuk siapa saja, termasuk
bangsa dan penganut agama lain.
c. Ilmu
pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang mulia, yang penting dan sesuatu yang
harus dikembangkan.
d. Kebebasan berpikir sebagai hak asasi
manusia.
2.
Sistem Sosial
Pada masa ini,
sistem sosial adalah sambungan dari masa sebelumnya (Masa Dinasti Umaiyah).
Akan tetapi, pada masa ini terjadi beberapa perubahan yang sangat mencolok,
yaitu:
a. Tampilnya
kelompok mawali dalam pemerintahan serta mendapatkan tempat yang sama dalam
kedudukan sosial
b. Kerajaan
Islam Daulah Abbasiyah terdiri dari beberapa bangsa ang berbeda-beda (bangsa
Mesir, Syam, Jazirah Arab dll.)
c. Perkawinan
campur yang melahirkan darah campuran
d. terjadinya
pertukaran pendapat, sehingga muncul kebudayaan baru .
D. Kejayaan Daulah Abbasiyah
Masa Abbasiyah menjadi tonggak puncak
peradaban Islam. Khalifah-khalifah Bani Abbasiyah secara terbuka mempelopori
perkembangan ilmu pengetahuan dengan mendatangkan naskah-naskah kuno dari
berbagai pusat peradaban sebelumnya untuk kemudian diterjemahkan, diadaptasi
dan diterapkan di dunai Islam. Para ulama’ muslim yang ahli dalam berbagai ilmu
pengetahuan baik agama maupun non agama juga muncul pada masa ini. Pesatnya
perkembangan peradaban juga didukung oleh kemajuan ekonomi imperium yang
menjadi penghubung dunua timur dan barat. Stabilitas politik yang relatif baik
terutama pada masa Abbasiyah awal ini juga menjadi pemicu kemajuan peradaban
Islam
1.
Gerakan penerjemahan
Meski kegiatan
penerjemahan sudah dimulai sejak Daulah Umayyah, upaya untuk menerjemahkan dan menskrinsip
berbahasa asing terutama bahasa yunani dan Persia ke dalam bahasa arab
mengalami masa keemasan pada masa DaulahAbbasiyah. Para ilmuandiutus ke daeah
Bizantium untuk mencari naskah-naskah yunanidalam berbagai ilmu terutama
filasafat dan kedokteran.
Pelopor gerakan
penerjemahan pada awal pemerintahan daulah Abbasiyah adalah Khalifah Al-Mansyur
yang juga membangun Ibu kota Baghdad. Pada awal penerjemahan, naskah yang
diterjemahkan terutama dalam bidang astrologi, kimia dan kedokteran. Kemudian
naskah-naskah filsafat karya Aristoteles dan Plato juga diterjemahkan. Dalam
masa keemasan, karya yang banyak diterjemahkan tentang ilmu-ilmu pragmatis
seperti kedokteran. Naskah astronomi dan matematika juga diterjemahkan namun,
karya-karya berupa puisi, drama, cerpen dan sejarah jarang diterjemakan karena
bidang ini dianggap kurang bermanfa’at dan dalam hal bahasa, Arab sendiri
perkembangan ilmu-ilmu ini sudah sangat maju.
Pada masa ini,
ada yang namanya Baitul hikmah yaitu perpustakaan yang berfungsi sebagai pusat
pengembagan ilmu pengetahuan. Pada masa Harun Ar-Rasyid diganti nama menjadi
Khizanah al-Hikmah (Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan
dan pusat penelitian. Pada masa Al-Ma’mun ia dikembangkan dan diubah namanya
menjadi Bait al-Hikmah, yang dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai
tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium, dan
bahkan dari Ethiopia dan India. Direktur perpustakaannya seorang nasionalis
Persia, Sahl Ibn Harun. Di bawah kekuasaan Al-Ma’mun, lembaga ini sebagai
perpustakaan juga sebagai pusat kegiatan study dan riset astronomi dan
matematika.
2.
Dalam bidang filasafat
Pada masa ini
pemikiran filasafat mencakup bidang keilmuan yang sangat luas seperti logika,
geometri, astronomi, dan juga teologia. Beberapa tokoh yang lahir pada masa
itu, termasuk diantaranya adalah Al-Kindi, Al-farobi, Ibnu Sina dan juga
Al-Ghazali yang kita kenal dengan julukan Hujjatul Islam.
3.
Perkembangan Ekonomi
Ekonomi
imperium Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Sudah terdapat berbagai macam
industri sepertikain linen di Mesir, sutra dari Syiria dan Irak, kertas dari
Samarkand, serta berbagai produk pertanian seperti gandum dari Mesir dan kurma
dari Iraq. Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai
wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain.
Karena
industralisasi yang muncul di perkotaan ini, urbanisasi tak dapat dibendung
lagi. Selain itu, perdagangan barang tambang juga semarak. Emas yang ditambang
dari Nubia dan Sudan Barat melambungkan perekonomian Abbasiyah.
Perdagangan
dengan wilayah-wilayah lain merupakan hal yang sangat penting. Secara bersamaan
dengan kemajuan Daulah Abbasiyah, Dinasti Tang di Cina juga mengalami masa
puncak kejayaan sehingga hubungan perdagangan antara keduanya menambah
semaraknya kegiatan perdagangan dunia.
4.
Dalam bidang Keagamaan
Di bawah
kekuasaan Bani Abbasiyah, ilmu-ilmu keagamaan mulai dikembangkan. Dalam masa
inilah ilmu metode tafsir juga mulai berkembang, terutama dua metode
penafsiran, yaitu Tafsir bir Ra’i dan Tafsir bil Ma’tsur. Dalam bidang hadits,
pada masa ini hanya merupakan penyempurnaan, pembukuan dari catatan dan hafalan
para sahabat. Pada masa ini pula dimulainya pengklasifikasian hadits, sehingga
muncul yang namanya hadits dhaif, maudlu’, shahih serta yang lainnya. Sedangkan
dalam bidang hukum Islam karya pertama yang diketahui adalah Majmu’ al Fiqh
karya Zaid bin Ali (w.122 H/740 M) yang berisi tentang fiqh Syi’ah Zaidiyah.
Hakim agung yang pertama adalah Abu Hanifah (w.150/767). Meski diangap sebagai
pendiri madzhab Hanafi, karya-karyanya sendiri tidak ada yang terselamatkan.
Dua bukunya yang berjudul Fiqh al-Akbar (terutama berisi artikel tentang
keyakinan) dan Wasiyah Abi Hanifah berisi pemikiran- pemikirannya terselamatkan
karena ditulis oleh para muridnya.
E.
Runtuhnya
Daulah Abbasiyah
Tak ada gading
ang tak retak. Mungkin pepatah inilah ang sangat pas untuk dijadikan cermin
atas kejayaan ang digapai bani Abbasiah. Meskipun Daulah Abbasiyah begitu
bercahaya dalam mendulang kesuksesan dalam hampir segala bidang, namun akhirnya
iapun mulai kaku dan akhirnya runtuh. Menurut beberapa literatur, ada beberapa
sebab keruntuhan daulah Abbasyiah, yaitu:
1.
Faktor Internal
Mayoritas
kholifah Abbasyiah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan
melalaikan tugas dan kewajiban mereka terhadap negara. Luasnya wilayah
kekuasaan kerajaan Abbasyiah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit
dilakukuan - Semakin kuatnya pengaruh keturunan Turki, mengakibatkan kelompok
Arab dan Persia menaruh kecemburuan atas posisi mereka.
Dengan
profesionalisasi angkatan bersenjata ketergantungan khalifah kepada mereka
sangat tinggi. Permusuhan antar kelompok suku dan kelompok agama. Merajalelanya
korupsi dikalangan pejabat kerajaan.
2.
Faktor Eksternal Perang Salib yang berlangsung beberapa
gelombang dan menelan banyak korban. Penyerbuan Tentara Mongol dibawah pimpinan
Hulagu Khan yang menghancrkan Baghdad. Jatuhnya Baghdad oleh Hukagu Khan
menanndai berakhirnya kerajaan Abbasyiah dan muncul: Kerajaan Syafawiah di
Iran, Kerajaan Usmani di Turki, dan Kerajaan Mughal di India.
F.
Kesimpulan
Dinamakan khilafah bani Abbasiyah karena para
pendiri dan penguasanya adalah keturunan al Abbas paman Nabi Muhammad SAW.
Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah
ibn Abbas. Berdirinya Dinasti ini tidak terlepas dari keamburadulan Dinasti
sebelumny, dinasti Umaiyah. Pada mulanya ibu kota negera adalah al- Hasyimiyah
dekat kufah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga setabilitas Negara al-
Mansyur memindahkan ibu kota Negara ke Bagdad. Dengan demikian pusat
pemerintahan dinasti Abasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Al-Mansyur
melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah
personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif.
Puncak
perkembangan dinasti Abbasiyah tidak seluruhnya berawal dari kreatifitas
penguasa Bani Abbasiyah sendiri. Sebagian diantaranya sudah dimulai sejak awal
kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan misalnya di awal Islam, lembaga
pendidikan sudah mulai berkembang. Namun lembaga-lembaga ini kemudian
berkembang pada masa pemerintahan Bani Abas dengan berdirinya perpustakaan dan
akademi.
Pada beberapa
dekade terakhir, daulah Abbasiyah mulai mengalami kemunduran, terutama dalam
bidang politiknya, dan akhirnya membawanya pada perpecahan yang menjadi akhir
sejarah daulah abbasiyah.
By. Nur Hidayat
Komentar
Posting Komentar